Fikp.umsida.ac.id – Program Studi Psikologi Universitas Fakultas Ilmu Kesehatan Psikologi (FIKP) Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menggelar sarasehan dan pameran poster karya mahasiswa bertema “Merawat Identitas Lokal di Era Digital dan Kecerdasan Artifisial (AI)” di Kampus 2 Umsida ( 25/07/26).
Kegiatan ini menjadi ruang akademik yang mengajak mahasiswa memahami bahwa perkembangan teknologi dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga identitas budaya Indonesia.
Sarasehan menghadirkan pemerhati budaya Panji, Henri Nurcahyo,
serta dosen Psikologi Umsida yang tengah menempuh studi doktoral di University of Hamburg, Jerman, Dr (Cand) Hazim.
Baca Juga: Kolaborasi Internasional Psikologi Umsida dan Malaysia, AI Jadi Sorotan dalam Dunia Pendidikan
Dosen dan mahasiswa mengikuti diskusi yang mengupas peran budaya lokal, perkembangan teknologi digital, hingga pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam pelestarian warisan budaya.
Ketua panitia, M. Deffaldo F.W. atau yang akrab disapa Aldo, mengatakan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan ide sekaligus menunjukkan kreativitas mereka melalui karya ilmiah dan poster.
AI Bukan Ancaman, tetapi Peluang bagi Budaya Lokal

Dalam sesi pertama, Henri Nurcahyo mengulas kekayaan Budaya Panji yang menjadi salah satu warisan budaya Indonesia.
Menurutnya, kisah Panji tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga mengandung pesan moral yang masih relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Ia menilai perkembangan teknologi justru membuka peluang baru untuk memperkenalkan budaya kepada generasi muda melalui berbagai media digital.
Cek Juga: Mahasiswa Psikologi Umsida Gelar NEXORA 2026
Sementara itu, Dr (Cand) Hazim mengajak mahasiswa untuk melihat kecerdasan artifisial sebagai alat yang dapat memperkuat pelestarian budaya apabila digunakan secara bijaksana.
“Kemajuan teknologi bukan sesuatu yang harus ditakuti. Justru AI dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan, mendokumentasikan, dan melestarikan budaya lokal agar semakin dikenal oleh generasi muda,” jelas Hazim.
Dalam kesempatan tersebut, Hazim juga menjelaskan konsep repatriasi, yaitu proses pengembalian benda maupun warisan budaya ke negara asalnya.
Ia mencontohkan perkembangan proses repatriasi antara Indonesia dan Belanda sebagai bentuk upaya menjaga identitas budaya bangsa.
Mahasiswa Sajikan Gagasan Kreatif Lewat Pameran Poster

Usai sesi sarasehan, kegiatan dilanjutkan dengan presentasi poster karya mahasiswa yang terbagi dalam empat sesi. Setiap kelompok memaparkan ide mengenai pelestarian budaya lokal melalui pendekatan kreatif berbasis teknologi digital.
Presentasi berlangsung interaktif karena dosen memberikan masukan terhadap setiap karya. Evaluasi tersebut diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menyempurnakan gagasan mereka menjadi penelitian yang lebih komprehensif.
Aldo menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk belajar mengembangkan solusi kreatif terhadap isu budaya.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami pentingnya budaya lokal, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi agar budaya tersebut tetap hidup dan relevan di era digital,” ujarnya.
Pada akhir kegiatan, panitia mengumumkan pemenang kategori Poster Terbaik dan Presentasi Terbaik. Selain memperoleh penghargaan, para pemenang juga mendapatkan kesempatan mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal bereputasi SINTA 2, SINTA 3, atau SINTA 4.
Perkuat Identitas Budaya melalui Inovasi Mahasiswa

Melalui kegiatan ini, Program Studi Psikologi Umsida berharap mahasiswa semakin sadar bahwa perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial dapat dimanfaatkan untuk menjaga sekaligus mengembangkan budaya lokal.
Kolaborasi antara kajian budaya, psikologi, dan teknologi diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya adaptif terhadap perkembangan zaman, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap identitas budaya Indonesia.
Dengan semangat tersebut, Psikologi Umsida terus mendorong mahasiswa agar berani berkarya, berinovasi dan menjadikan teknologi sebagai jembatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat yang lebih luas.
Penulis: Fatma Nur Ilmiah dkk.





















