Fikp.umsida.ac.id – Laboran D4 Manajemen Informasi Kesehatan (MIK) Fakultas Ilmu Kesehatan dan Psikologi (FIKP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) berhasil meraih Best Presenter 2 dalam ajang Karya Inovasi Laboran & Tenaga Kependidikan (KILAT) 2026.
Prestasi tersebut diraih melalui inovasi bertajuk “Smart Coding Hub: Development of Integrated Codification Learning Media Based on ICD-10 Pocket Book and Augmented Reality to Improve Student Competence.”
Inovasi ini dikembangkan oleh Alfinda Ayu Hadikasari, S.Tr.RMIK., M.Kes., sebagai ketua, bersama Nova Mellania, S.Tr.RMIK., sebagai anggota.
Gagasan Smart Coding Hub berangkat dari pengalaman mendampingi mahasiswa D4 MIK dalam praktikum kodifikasi klinis.
Kodifikasi menjadi salah satu kompetensi penting bagi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan (PMIK).
Mahasiswa tidak hanya dituntut menghafal kode, tetapi juga memahami terminologi medis, anatomi, fisiologi, kondisi patologis, lead term, Alphabetical Index, Tabular List, hingga aturan dan konvensi ICD-10.
Menurut Alfinda, banyaknya tahapan tersebut membuat mahasiswa membutuhkan media belajar yang lebih terintegrasi.
“Mahasiswa tidak cukup hanya menghafal kode. Mereka perlu memahami alur kodifikasi secara menyeluruh, mulai dari memahami kasus hingga menentukan dan memverifikasi kode yang tepat,” jelasnya.
Dari kebutuhan tersebut, Smart Coding Hub dirancang sebagai pusat pembelajaran yang memadukan materi, visualisasi, dan latihan kodifikasi dalam satu media.
Satukan Materi, Visualisasi, dan Latihan Kodifikasi

Smart Coding Hub hadir untuk menjawab persoalan ketika mahasiswa harus menghubungkan berbagai pengetahuan yang sebelumnya dipelajari secara terpisah.
Materi terminologi medis, anatomi, patologi, serta aturan ICD-10 disusun dalam satu alur pembelajaran yang lebih praktis.
Media ini dapat diakses melalui Google Sites dan kode QR.
Di dalamnya tersedia ICD-10 Pocket Book, Quick Coding Guide, materi terminologi medis, visualisasi anatomi berbasis Augmented Reality (AR), latihan kasus, serta kuis kodifikasi.
Alur pembelajarannya dirancang melalui konsep “Scan–Learn–Explore–Practice–Code”.
Mahasiswa dapat memulai dengan mengakses materi, mengeksplorasi informasi anatomi, kemudian berlatih menganalisis kasus hingga menentukan kode.
Nova menjelaskan bahwa integrasi tersebut diharapkan membuat proses belajar tidak lagi bergantung pada satu bentuk media.
“Smart Coding Hub kami rancang agar mahasiswa dapat belajar secara lebih praktis, visual dan fleksibel. Jadi, mereka bisa mengakses materi sekaligus berlatih menerapkan konsep kodifikasi dalam satu tempat,” ungkap Nova.
Augmented Reality Jadi Jembatan dari Teori ke Praktik

Salah satu unsur yang menjadi pembeda Smart Coding Hub adalah pemanfaatan teknologi Augmented Reality.
Teknologi ini digunakan untuk menghadirkan objek anatomi tiga dimensi yang dapat diamati dari berbagai sudut.
Visualisasi tersebut membantu mahasiswa memperoleh gambaran yang lebih konkret mengenai struktur tubuh, lokasi organ, serta keterkaitannya dengan kondisi atau diagnosis tertentu.
Setelah memahami aspek anatomi dan terminologi, mahasiswa diarahkan untuk melanjutkan proses analisis kasus dan penentuan kode.
Dengan demikian, AR tidak sekadar digunakan sebagai elemen visual agar pembelajaran terlihat menarik.
Teknologi tersebut ditempatkan sebagai bagian dari proses memahami hubungan antara konsep klinis dengan kodifikasi.
Pendekatan ini juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar secara mandiri, baik ketika mengikuti praktikum maupun saat mengulang materi di luar kelas.
Dukung Pembelajaran MIK di Era Digital

Smart Coding Hub diharapkan dapat memperkuat kualitas pembelajaran D4 MIK Umsida sekaligus membantu mahasiswa beradaptasi dengan perkembangan digitalisasi kesehatan.
Media ini mendukung pendekatan self-directed learning, microlearning, multimedia learning, dan case-based learning.
Bagi dosen dan laboran, Smart Coding Hub juga dapat digunakan sebagai media pendamping dalam praktikum maupun evaluasi pembelajaran. Sementara mahasiswa dapat mengulang materi sesuai kebutuhan dan memperoleh pengalaman belajar yang lebih interaktif.
Ke depan, pengembangan Smart Coding Hub diarahkan pada penambahan objek AR, bank kasus bertingkat, video pembelajaran, kuis interaktif, serta sistem evaluasi yang dapat memberikan umpan balik kepada mahasiswa.
Alfinda berharap inovasi tersebut tidak berhenti sebagai karya kompetisi, tetapi terus dikembangkan dan memberikan manfaat yang lebih luas.
“Harapan terbesar kami, Smart Coding Hub tidak berhenti sebagai sebuah karya dalam kompetisi, tetapi dapat terus berkembang dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kompetensi calon PMIK,” pungkasnya.
Melalui inovasi ini, Laboran D4 MIK Umsida menunjukkan bahwa pembelajaran kodifikasi dapat terus beradaptasi dengan teknologi, tanpa meninggalkan ketelitian dan standar kompetensi yang menjadi dasar profesi PMIK.(Elfirarm)























