Cara Tenaga Kesehatan Hadapi Tantangan Komunikasi di Situasi Sensitif Pasien

Fikes.umsida.ac.id – Dalam dunia pelayanan kesehatan, tidak semua situasi bisa dihadapi dengan komunikasi biasa. Ada kondisi-kondisi sensitif seperti pasien yang sedang berduka, mengalami trauma, hingga menjadi korban kekerasan.

Di momen seperti ini, tenaga kesehatan dituntut tidak hanya profesional, tetapi juga mampu berkomunikasi dengan empati yang tinggi.

Dalam modul pembelajaran dosen kebidanan Umsida, Yanik Purwanti, SST MKeb, dijelaskan bahwa komunikasi dalam praktik kebidanan mencakup berbagai tantangan, termasuk komunikasi dalam kondisi spesifik seperti berduka, kehilangan, hingga kasus kekerasan .

Lihat Juga: Pendirian Daycare Lansia, Cara Abdimas Umsida Perkuat Layanan Sosial di Masyarakat

Komunikasi Tidak Selalu Bisa Disamakan
Sumber: Pexels

Setiap pasien datang dengan latar belakang emosi yang berbeda. Pasien yang sedang berduka, misalnya, membutuhkan pendekatan yang lebih halus dan penuh pengertian. Begitu pula dengan korban kekerasan yang sering kali mengalami trauma dan kesulitan untuk terbuka.

Dalam modul tersebut juga dijelaskan bahwa tenaga kesehatan perlu memahami kondisi psikososial pasien, termasuk emosi seperti kecemasan, kesedihan, hingga kemarahan . Hal ini penting agar komunikasi yang dilakukan tidak justru memperburuk kondisi pasien.

Artinya, komunikasi tidak bisa disamaratakan. Setiap situasi membutuhkan pendekatan yang berbeda, sesuai dengan kondisi emosional pasien.

Cek Juga:  Rekam Medis Tidak Lengkap Jadi Masalah Utama, Ini Dampaknya bagi Pelayanan Rumah Sakit

Tantangan Besar: Empati dan Kehati-hatian

Berkomunikasi dalam situasi sensitif bukanlah hal mudah. Salah memilih kata dapat menimbulkan dampak besar, mulai dari kesalahpahaman hingga luka emosional yang lebih dalam.

Modul pembelajaran ini menekankan bahwa tenaga kesehatan harus memiliki empati, mampu memahami sudut pandang pasien, serta menunjukkan sikap menerima tanpa menghakimi. Dalam teori konseling, hal ini dikenal sebagai unconditional positive regard, yaitu menerima pasien apa adanya.

Selain itu, tenaga kesehatan juga perlu menjaga etika komunikasi, termasuk menjaga privasi pasien, menggunakan bahasa yang tepat, serta menghindari pertanyaan yang dapat menyinggung perasaan.

Lihat Selengkapnya: Perawatan Luka Persalinan Secara Herbal: Riset Ungkap Manfaat Daun Binahong

Perlu Keterampilan Khusus dalam Komunikasi Sensitif
Sumber: Pexels

Komunikasi dalam situasi sensitif membutuhkan keterampilan khusus yang tidak bisa diperoleh secara instan. Salah satunya adalah kemampuan mendengar aktif, yang memungkinkan tenaga kesehatan memahami kebutuhan pasien secara lebih mendalam.

Dalam modul juga dijelaskan bahwa mendengar aktif dapat membantu tenaga kesehatan memahami perasaan pasien dan membangun hubungan yang lebih baik. Dengan demikian, pasien akan merasa lebih aman untuk terbuka.

Pada akhirnya, komunikasi dalam pelayanan kesehatan bukan hanya soal menyampaikan informasi, tetapi juga tentang bagaimana hadir sebagai manusia yang memahami manusia lainnya.

Dalam situasi sensitif, empati dan kepekaan menjadi kunci utama untuk menciptakan pelayanan yang benar-benar bermakna.

Sumber: Modul Pembelajaran Yanik Purwanti SST MKeb

Penulis: Elfira Armilia

Berita Terkini

FIKP Umsida Gelar Cek Kesehatan Gratis di CFD Taman Bungkul, Surabaya
July 27, 2026By
Hospital Laboratory Visit Jadi Bekal Mahasiswa TLM Umsida Mengenal Praktik Laboratorium Klinik
July 3, 2026By
Kolaborasi Internasional Psikologi Umsida dan Malaysia, AI Jadi Sorotan dalam Dunia Pendidikan
July 1, 2026By
Lulusan Terbaik dan Mahasiswa Berprestasi Psikologi Umsida Bagikan Kisah Perjuangan Mereka
June 22, 2026By
Pesan Prof Hana untuk Lulusan Psikologi Umsida: Jangan Batasi Diri untuk Terus Berkembang
June 19, 2026By
Perjalanan Ghozali Rusyid Meraih Gelar Doktor tanpa melalui ujian terbuka
June 18, 2026By
OSCE TLM Umsida 2026 Uji Nyata Skill Mahasiswa di Dunia Laboratorium Medis
May 1, 2026By
Seminar Nasional Kebidanan Umsida Bahas Kesehatan Mental Ibu Nifas dan Terapi Akupresur
April 30, 2026By

Prestasi

Poster Deteksi Persalinan Macet Dosen Kebidanan Umsida Raih Juara 3
August 6, 2026By
Dosen Kebidanan Umsida Raih Juara 2 lewat Poster Kesehatan Mental Remaja
August 5, 2026By
Widi Arti Raih Gelar Doktor lewat Riset Cedera Olahraga Sepatu Roda
August 4, 2026By
Mahasiswa Kebidanan Raih Juara 1 Esai Ilmiah Nasional 2026
August 3, 2026By
Prodi D4 TLM Umsida Resmi Jadi Penerima Bantuan PP-PTS Reguler 2026
July 30, 2026By
Anggie Erianti Raih Juara 2 Poster Ilmiah Nasional, Angkat Pentingnya Respectful Maternity Care
July 29, 2026By
Bekerja Sambil Kuliah, Anjar Jadi Lulusan Terbaik Psikologi Umsida
July 17, 2026By
Kisah Rizka Ardilah, Ibu Muda yang Jadi Lulusan Terbaik Psikologi Umsida
July 15, 2026By

Opini

Viral Kasus Daycare Jogja dan Pentingnya Memilih Daycare Aman
June 4, 2026By
Cara Mengatasi Osteoporosis agar Tulang Tetap Kuat di Usia Lanjut
May 24, 2026By
Donor Darah Ternyata Punya Banyak Manfaat, Cek Selengkapnya!
May 19, 2026By
Sulit Tidur hingga Overthinking Jadi Gejala Umum Postpartum Anxiety
May 18, 2026By
Sering Lemas dan Pusing? Bisa Jadi Tanda Anemia Kambuh
May 17, 2026By