Fikp.umsida.ac.id – Program Studi S1 Kebidanan dan Profesi Bidan Fakultas Ilmu Kesehatan dan Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FIKP Umsida) menggelar Workshop Pemetaan dan Penyelarasan Kurikulum terhadap ICM Essential Competencies for Midwife 2024, Kamis,(13/08/26).
Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam upaya memastikan kurikulum pendidikan kebidanan tetap relevan dengan perkembangan profesi, kebutuhan masyarakat, sekaligus standar kompetensi bidan internasional.
Kegiatan yang diadakan di Meeting room, Hotel Luminor Sidoarjo dan dihadiri dosen S1 Kebidanan, dosen Profesi kebidanan,dosen AIK (Al-Islam dan Kemuhammadiyahan), pengelola gugus jaminan mutu (GJM) dan Unit Jaminan Mutu (UJM).
S1 Kebidanan Umsida juga menjadi salah satu kandidat lokus Center of Excellence (CoE) kurikulum wilayah Jawa Timur di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA).
Kurikulum Jadi Bagian Penting Menuju Akreditasi Unggul
Wakil Rektor I Umsida, Prof Dr Hana Catur Wahyuni ST MT, dalam pembukaannya menekankan bahwa proses pemetaan kurikulum perlu dimanfaatkan untuk melihat kekurangan yang masih harus diperbaiki.
Hasil workshop tidak hanya diarahkan untuk memenuhi program yang sedang berjalan, tetapi juga menjadi bagian dari persiapan akreditasi.
“Mapping ini selain memenuhi tujuan pemberi dana, juga harus ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akreditasi. Cek ulang identifikasi ini, mana yang harus dilengkapi untuk proses akreditasi,” pesannya.
Ia juga mengingatkan agar setiap proses, substansi, hingga dokumen kegiatan disiapkan dengan baik karena dapat menjadi bukti pendukung dalam tahapan menuju akreditasi unggul.
Cek Juga: Ketua IBI Jatim Tekankan Etika Profesi pada Sumpah Profesi FIKES Umsida
Kurikulum Kebidanan Harus Menjawab Kebutuhan Sidoarjo

Dekan FIKP Umsida, Evi Rinata SST MKeb, menegaskan bahwa perkembangan kurikulum tidak dapat dilepaskan dari perubahan kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, satu siklus kurikulum selama empat tahun terasa sangat singkat karena dinamika keilmuan dan kebutuhan profesi terus berubah.
“Kurikulum itu sesuatu yang sangat dinamis. Khususnya di kebidanan, kita harus senantiasa memastikan kurikulum relevan dengan profesi kebidanan dan kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah meninjau kembali keunggulan keilmuan program studi.
Jika sebelumnya berfokus pada pelayanan komplementer akupresur, rancangan 2026 mengarah pada kesehatan reproduksi pekerja perempuan. Fokus tersebut dipilih karena Sidoarjo merupakan wilayah industri dengan banyak perempuan bekerja di sektor industri maupun UMKM.
Baca Juga: Seminar Nasional Kebidanan Umsida Bahas Kesehatan Mental Ibu Nifas dan Terapi Akupresur
Selaraskan Kompetensi Lulusan dengan Standar Internasional

Dalam presentasinya, Kaprodi Kebidanan Umsida Siti Cholifah SST MKeb, memaparkan bahwa peninjauan kurikulum juga diarahkan agar pendidikan kebidanan selaras dengan ICM Essential Competencies for Midwifery Practice 2024.
“Kurikulum pendidikan kebidanan harus terus diperbarui dan diimplementasikan secara efektif. Karena itu, diperlukan penyesuaian kurikulum agar selaras dengan standar internasional,” sebagaimana disampaikan dalam materi presentasinya.
Penyelarasan mencakup lima domain kompetensi, mulai dari kompetensi lintas fungsi praktik kebidanan, kesehatan seksual dan reproduksi, pelayanan antenatal, pelayanan selama persalinan, hingga perawatan berkelanjutan bagi perempuan dan bayi baru lahir.
Selain itu, Prodi Kebidanan Umsida turut melakukan peninjauan profil lulusan dan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL). Dari sebelumnya 14 CPL pada kurikulum 2023, rancangan 2026 menyederhanakannya menjadi delapan CPL dengan tetap mempertahankan beban 147 SKS.
Melalui workshop ini, kurikulum Kebidanan Umsida diharapkan tidak hanya memenuhi standar akademik, tetapi benar-benar mampu menyiapkan bidan yang kompeten, adaptif, serta mampu menjawab kebutuhan kesehatan perempuan di tingkat lokal maupun global.(Elfirarm)























