Fikp.umsida.ac.id – Prestasi kembali ditorehkan mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan dan Psikologi (FIKP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).
Nur Muhammad Maulana, yang akrab disapa Anang, mahasiswa Program Studi Fisioterapi.
Berhasil meraih Juara 2 kategori Kyorugi U-54 pada Kejuaraan Taekwondo Grade-C Piala Wali Kota Surabaya 2026 yang berlangsung pada 19–21 Juni 2026 di GOR Indoor Bung Tomo, Surabaya.
Kejuaraan yang diselenggarakan KONI Kota Surabaya tersebut menjadi ajang pembuktian hasil latihan panjang sekaligus mengantarkan Anang membawa nama baik Umsida di tingkat regional.
Empat Bulan Berlatih Demi Tampil Maksimal

Bagi Anang, medali perak yang diraih bukanlah hasil yang datang secara instan. Ia mengawali persiapan dengan mengikuti seleksi internal sebelum menjalani latihan intensif selama empat bulan bersama pelatih dan rekan satu tim.
Latihan dilakukan secara konsisten sebanyak empat hingga lima kali dalam seminggu.
Program latihan meliputi peningkatan daya tahan tubuh melalui latihan kardio, penguatan otot, latihan kelincahan, hingga pemantapan teknik seperti tendangan, footwork, dan sparring.
Baca Juga: Bangga! Tim Fisioterapi Umsida Tembus Juara di Physiofest Nasional 2026
Tak hanya fisik, kesiapan mental juga menjadi perhatian utama. Anang membiasakan latihan pernapasan, visualisasi pertandingan, dan membangun pola pikir positif agar tetap tenang saat memasuki arena pertandingan.
“Tantangan terbesar bagi saya adalah mengatasi rasa gugup di awal pertandingan dan menghadapi lawan yang memiliki gaya bertanding berbeda. Saya memilih fokus pada instruksi pelatih dan menjalani pertandingan ronde demi ronde tanpa terlalu memikirkan hasil akhirnya,” ujarnya.
Strategi tersebut membuatnya mampu tampil lebih percaya diri hingga berhasil melangkah ke babak final dan membawa pulang medali perak.
Ilmu Fisioterapi Jadi Bekal Saat Bertanding
Sebagai mahasiswa Fisioterapi Umsida, Anang mengaku ilmu yang dipelajari selama kuliah memberikan manfaat besar dalam menunjang performanya sebagai atlet.
Pemahaman mengenai anatomi, fisiologi, dan biomekanika membantunya menyusun pola pemanasan yang tepat, mencegah risiko cedera, hingga melakukan proses pemulihan tubuh setelah latihan maupun pertandingan.
“Ilmu Fisioterapi sangat membantu saya memahami cara menjaga kondisi tubuh. Saya jadi tahu bagaimana melakukan pemanasan, peregangan, cooling down, hingga recovery secara mandiri agar tetap siap bertanding,” jelasnya.
Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa, Anang tetap mampu menjaga keseimbangan antara kuliah dan latihan. Ia menerapkan jadwal yang disiplin dengan menempatkan perkuliahan sebagai prioritas, sementara latihan dilakukan pada sore atau malam hari. Ketika jadwal kompetisi berbenturan dengan perkuliahan, ia selalu berkomunikasi dengan dosen sehingga proses akademik tetap berjalan dengan baik.
Medali Perak Jadi Motivasi Menuju Juara Berikutnya

Bagi Anang, medali perak memiliki makna yang lebih dari sekadar pencapaian di atas podium. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa kerja keras, doa, dan dukungan dari keluarga, pelatih, dosen, serta teman-teman tidak pernah sia-sia.
Ia bertekad melakukan evaluasi terhadap kekurangan yang masih dimiliki agar mampu meraih hasil yang lebih baik pada kompetisi berikutnya.
Menutup wawancara, Anang berpesan kepada seluruh mahasiswa Umsida agar tidak ragu mengembangkan potensi yang dimiliki.
“Jangan takut memulai dan tetap konsisten. Kuliah dan prestasi bisa berjalan beriringan kalau kita disiplin mengatur waktu. Percaya pada proses, karena hasil tidak akan mengkhianati usaha,” pungkasnya.(Elfirarm)





















