fikp.umsida.ac.id – Pengalaman mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) di Bali menjadi awal keberhasilan Khoirotul Qiftiyah, mahasiswa Program Studi S1 Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan dan Psikologi (FIKP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), meraih prestasi tingkat nasional.
Bersama dua rekannya, Dwi dan Enji, Khoirotul berhasil meraih Juara 2 kategori Esai Ilmiah dalam Midwifery Student Nasional Competition 2025 melalui karya yang mengangkat konsep hipnobirthing dalam asuhan sayang ibu.
Prestasi tersebut menunjukkan bahwa pengalaman pembelajaran di luar kampus dapat menjadi inspirasi untuk menghasilkan gagasan ilmiah yang relevan dengan pengembangan pelayanan kebidanan.
Bagi Khoirotul, keberhasilan ini bukan sekadar memperoleh penghargaan, melainkan juga menjadi bukti pentingnya kolaborasi, keberanian mencoba, serta kemampuan mengembangkan ilmu menjadi karya bermanfaat.
Pengalaman PMM di Bali Jadi Inspirasi Esai Ilmiah
Ide mengangkat hipnobirthing bermula ketika Khoirotul mengikuti perkuliahan selama program PMM di Bali.
Sebelumnya, ia telah mengenal hipnobirthing melalui perkuliahan di Umsida. Namun, kesempatan mempelajari materi tersebut secara khusus selama satu hari membuat pemahamannya semakin berkembang.
“Ketika mengikuti PMM di Bali, saya berkesempatan mengikuti satu hari perkuliahan khusus mengenai hipnobirthing. Dari pengalaman tersebut, wawasan saya tentang penerapan asuhan sayang ibu semakin berkembang,” ungkap Khoirotul.
Menurutnya, hipnobirthing merupakan pendekatan yang memanfaatkan teknik pernapasan, relaksasi, fokus pikiran, serta dukungan verbal untuk membantu ibu menghadapi persalinan dengan lebih tenang.
Ketertarikannya terhadap pendekatan tersebut mendorong Khoirotul mengembangkan gagasan bahwa pelayanan kebidanan tidak hanya berfokus pada kondisi fisik ibu, tetapi juga memperhatikan aspek psikologis selama proses persalinan.
Pengalaman itu kemudian menjadi dasar penyusunan esai ilmiah setelah dirinya kembali ke Umsida.
Kolaborasi di Laboratorium Kebidanan Antarkan Tim Raih Juara
Proses penyusunan esai dilakukan bersama Dwi dan Enji, yang merupakan rekan Khoirotul sebagai asisten laboratorium kebidanan.
Ketiganya mengembangkan gagasan melalui diskusi di Laboratorium PNC Kebidanan Umsida, mulai dari menentukan konsep hingga menyusun pembahasan berdasarkan referensi ilmiah.
“Saya menyampaikan garis besar ide esai, kemudian kami bertiga mengembangkan gagasan tersebut bersama-sama,” jelasnya.
Dalam pembagian tugas, Khoirotul dan Enji berfokus mencari referensi dari jurnal ilmiah kebidanan, sedangkan Dwi membantu menyempurnakan susunan kalimat agar esai lebih terstruktur.
Meski demikian, proses persiapan tidak terlepas dari tantangan, terutama dalam membagi waktu antara perkuliahan dan tanggung jawab lainnya.
Khoirotul mengaku perlu menentukan prioritas agar proses penyusunan karya tetap berjalan sesuai rencana.
“Pengalaman ini membuat saya memahami bahwa meraih prestasi bukan hanya membutuhkan kemampuan akademik, tetapi juga komitmen, tanggung jawab, dan kerja sama tim,” tuturnya.
Melalui proses tersebut, gagasan sederhana yang awalnya muncul dari pengalaman perkuliahan berhasil berkembang menjadi karya ilmiah dan meraih Juara 2 tingkat nasional.
Prestasi Jadi Motivasi untuk Terus Mengembangkan Ilmu Kebidanan
Keberhasilan tersebut memberikan kebanggaan tersendiri bagi Khoirotul dan kedua rekannya.
Ia mengaku tidak menyangka bahwa pengalaman belajar selama mengikuti PMM dapat mengantarkan timnya meraih penghargaan nasional.
“Saya merasa sangat senang, terkejut, dan bersyukur. Jujur, saya tidak menyangka ide yang awalnya muncul saat bertukar pikiran bersama Dwi dan Enji bisa berkembang menjadi sebuah karya yang membawa tim kami meraih Juara 2,” ungkapnya.
Khoirotul juga menyampaikan apresiasi kepada dosen selama program PMM, rekan satu tim, teman-teman, serta Bu Umi dari bidang kemahasiswaan yang telah memberikan dukungan.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat memotivasi mahasiswa lain untuk lebih percaya diri mengembangkan gagasan dari pengalaman belajar.
“Jangan takut untuk mencoba dan jangan meremehkan ide yang muncul dari pengalaman sederhana. Kita tidak harus menunggu sampai merasa paling pintar atau paling siap untuk mulai mencoba,” pesannya.
Baginya, prestasi bukan hanya tentang menjadi juara, tetapi juga proses belajar, kerja sama, dan keberanian mengembangkan ilmu agar bermanfaat bagi masyarakat.
Penulis: Nabila Wulyandini



















