fikp.umsida.ac.id – Konsistensi dan kedisiplinan menjadi kunci keberhasilan Nabila Insyira Natasya, mahasiswa Program Studi Manajemen Informasi Kesehatan (MIK) Fakultas Ilmu Kesehatan dan Psikologi (FIKP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), dalam meraih predikat wisudawan terbaik.
Nabila berhasil menyelesaikan pendidikan selama empat tahun dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,95 dan predikat cumlaude. Menariknya, ia telah menyelesaikan skripsi sejak semester tujuh, meskipun masa perkuliahannya berlangsung hingga semester delapan.
Pencapaian tersebut semakin membanggakan karena selama kuliah Nabila tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga aktif berorganisasi dan menjalani lima kali Praktik Kerja Lapangan (PKL).
Baginya, keberhasilan akademik bukan sekadar memperoleh nilai tinggi, melainkan bagaimana ilmu yang dipelajari dapat diterapkan dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Konsistensi dan Manajemen Waktu Jadi Kunci Prestasi Akademik
Dalam mempertahankan prestasi akademiknya, Nabila selalu berusaha memahami setiap materi perkuliahan secara mendalam, bukan sekadar menghafal untuk menghadapi ujian.
“Kunci utama saya adalah konsistensi, tanggung jawab, dan kemauan untuk terus belajar. Bagi saya, kuliah bukan hanya tentang mendapatkan nilai tinggi, tetapi juga memahami dan menerapkan ilmu,” ungkap Nabila.
Di tengah kesibukan akademik, ia juga aktif mengembangkan kemampuan kepemimpinan melalui organisasi kemahasiswaan.
Nabila pernah menjabat sebagai Bupati Mahasiswa Himpunan Mahasiswa Program Studi Manajemen Informasi Kesehatan periode 2023–2024 dan Ketua Departemen Luar Negeri Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan periode 2024–2025.
Berbagai tanggung jawab tersebut membuatnya harus mampu menentukan prioritas agar kegiatan organisasi tidak mengganggu kewajiban akademik.
“Manajemen waktu bukan berarti harus selalu produktif tanpa istirahat, tetapi mampu menentukan prioritas dan menjalankan tanggung jawab dengan baik,” jelasnya.
Ia juga membiasakan diri mencatat materi penting, mengulang pembelajaran, serta menghubungkan teori dengan pengalaman praktik di lapangan.
Hadapi Lima Kali PKL hingga Ujian Kompetensi Nasional

Perjalanan Nabila meraih IPK 3,95 tidak terlepas dari berbagai tantangan selama perkuliahan.
Selain menjalani lima kali PKL, ia harus mempersiapkan Objective Structured Clinical Examination (OSCE) serta Uji Kompetensi berbasis Computer Based Test (CBT) Nasional.
Menurutnya, tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi akademik ketika berbagai tanggung jawab harus diselesaikan dalam waktu bersamaan.
Untuk menghadapinya, Nabila berusaha mengatur prioritas, menjaga kedisiplinan, dan memberikan waktu istirahat ketika merasa lelah.
“Saya menyadari bahwa motivasi bisa naik turun, sehingga kedisiplinan dan komitmen lebih penting daripada selalu merasa bersemangat. Saya percaya bahwa konsistensi dalam hal-hal kecil dapat membawa kita pada pencapaian besar,” tuturnya.
Keberhasilannya juga tidak terlepas dari dukungan orang tua, keluarga, dosen, serta teman-teman yang selalu memberikan motivasi selama menjalani pendidikan.
Nabila menganggap seluruh pengalaman tersebut sebagai proses pembelajaran yang membentuk tanggung jawab, kemampuan beradaptasi, dan kerja sama.
Siap Berkarier dan Berkontribusi dalam Pelayanan Kesehatan
Setelah menyelesaikan pendidikan, Nabila berencana mengembangkan karier di bidang Manajemen Informasi Kesehatan, khususnya pengelolaan rekam medis, sistem informasi kesehatan, serta peningkatan mutu data pelayanan kesehatan.
Ia berharap pengalaman akademik, organisasi, dan praktik lapangan menjadi bekal untuk menghadapi kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.
Namun, menurutnya, prestasi akademik bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan seseorang.
“Saya menyadari bahwa IPK saja tidak cukup. Saya juga perlu memiliki keterampilan praktis, kemampuan komunikasi, integritas, kedisiplinan, dan kemauan untuk terus belajar,” ujarnya.
Nabila berharap pencapaiannya dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus mengembangkan potensi tanpa harus membandingkan perjalanan diri dengan orang lain.
“Kita tidak harus selalu menjadi yang terbaik di antara orang lain, tetapi terus berusaha menjadi lebih baik dari diri sendiri,” pesannya.
Baginya, keberhasilan pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya memperoleh gelar atau nilai tinggi, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui ilmu yang dimiliki.
Penulis: Nabila Wulyandini



















