Fikp.umsida.ac.id – Rangkaian Faculty Development Program (FDP) Dosen Kebidanan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) yang digelar di Hotel Luminor Sidoarjo berlanjut pada Selasa, (29/9/2026).
Memasuki hari kedua, kegiatan diarahkan pada penguatan kapasitas dosen dalam aspek kepemimpinan kebidanan sekaligus pengembangan modul pembelajaran yang selaras dengan capaian pembelajaran.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pengembangan kompetensi dosen agar tidak hanya mampu menjalankan proses pembelajaran, tetapi juga memiliki kemampuan kepemimpinan dan merancang pengalaman belajar yang relevan bagi mahasiswa.
Baca Juga: FDP Kebidanan Umsida Dimulai, Dosen Siapkan Kompetensi Hadapi Tantangan Pendidikan
Kepemimpinan Menjadi Bagian Penting dalam Penguatan Profesi Kebidanan
Sesi pertama menghadirkan Dr. Emi Suryani, M.Mid dari Kemenkes Poltekkes Surakarta yang menyampaikan materi Kepemimpinan dalam Kebidanan.
Dalam sesi tersebut, peserta diajak memahami bahwa kepemimpinan merupakan bagian penting dalam perkembangan profesi kebidanan.
Materi membahas lima area penting dalam kebidanan, yaitu pembuatan kebijakan, pendidikan, perencanaan tenaga kebidanan, pelayanan kebidanan, dan penelitian.
Kelima area tersebut menunjukkan bahwa peran bidan tidak hanya berada pada aspek pelayanan, tetapi juga mencakup pendidikan, pengembangan kebijakan, pengelolaan sumber daya, hingga menghasilkan bukti melalui penelitian.
Dr. Emi juga mengajak peserta memahami proses kepemimpinan melalui lima aspek, yakni inspiring a shared vision, modelling the way, challenging the process, enabling others to act, dan encouraging the heart.
Kepemimpinan dalam konteks kebidanan tidak berhenti pada kemampuan mengarahkan orang lain, tetapi juga bagaimana seorang pemimpin mampu menjadi teladan, mendorong perubahan, membangun kolaborasi, serta menjaga semangat tim.
Pembahasan kemudian diperkuat dengan kompetensi yang perlu dimiliki seorang pemimpin, antara lain empati, kemampuan menjadi mediator, pengambilan keputusan yang efektif, menjadi role model, praktisi berbasis bukti, serta memiliki dedikasi terhadap profesi.
Dosen Diajak Merancang Modul yang Berorientasi pada Mahasiswa

Sesi berikutnya dilanjutkan dengan materi Desain Modul Pembelajaran yang disampaikan oleh Eggy Widya Larasati, M.Keb.
Peserta diperkenalkan pada prinsip desain modul pembelajaran yang relevan, sistematis dan koheren, terukur, fleksibel, aktif-partisipatif, serta berorientasi pada student-centered learning.
Pembahasan tidak hanya mengenai bentuk modul, tetapi juga bagaimana modul dirancang berdasarkan tujuan pembelajaran.
Peserta mempelajari sejumlah komponen penting, mulai dari Course Learning Outcomes, materi, Intended Learning Outcomes, strategi pembelajaran, aktivitas pembelajaran, asesmen, sumber belajar, hingga evaluasi. Constructive Alignment Jadi Dasar Penyelarasan Pembelajaran
Salah satu bagian penting dalam sesi ini adalah pengenalan konsep constructive alignment, yaitu penyelarasan antara capaian pembelajaran, aktivitas pembelajaran, dan penilaian.
Pendekatan tersebut membantu dosen memastikan bahwa setiap aktivitas yang diberikan kepada mahasiswa benar-benar mendukung capaian pembelajaran yang telah ditetapkan.
Dalam penerapannya pada Rencana Pembelajaran Semester (RPS), peserta diarahkan untuk merumuskan capaian pembelajaran, menentukan aktivitas yang sesuai, merancang strategi penilaian yang selaras, serta melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.
Melalui materi hari kedua ini, FDP tidak hanya menjadi ruang untuk menambah pengetahuan, tetapi juga mendorong dosen merefleksikan kembali perannya sebagai pendidik, pemimpin, sekaligus pengembang pembelajaran.
Harapan FDP Tingkatkan Kapabilitas Dosen

Eggy berharap pelaksanaan Faculty Development Program (FDP) dapat meningkatkan kapabilitas dosen, baik dalam merencanakan pembelajaran, memfasilitasi proses belajar, maupun merancang asesmen yang mampu mengukur kompetensi mahasiswa.
Menurutnya, dosen tidak hanya bertanggung jawab menyusun rencana pembelajaran, tetapi juga perlu mampu menerapkan metode teaching and learning yang bervariasi serta memastikan asesmen berjalan efektif untuk mengetahui ketercapaian kompetensi peserta didik.
Melalui FDP ini, ia berharap dosen semakin terampil mengembangkan strategi pembelajaran yang inovatif, menggunakan metode pengajaran yang beragam, dan menyusun penilaian yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.
Dengan demikian, kegiatan FDP tidak hanya menjadi ruang untuk memperluas pengetahuan, tetapi juga mendorong dosen merefleksikan dan mengembangkan perannya sebagai perencana pembelajaran. (Elfirarm)























